<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4462375348944817866</id><updated>2012-02-06T22:27:13.836+07:00</updated><title type='text'>Jefri</title><subtitle type='html'>dan yang berlalu biarlah ditulis disini</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jefridi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4462375348944817866/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jefridi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Jefri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13631404975338486546</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SYApSwv_alI/AAAAAAAAAAg/a5FpS5O8hC8/S220/IMG_0321.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4462375348944817866.post-3304356890407949488</id><published>2012-02-06T22:27:00.000+07:00</published><updated>2012-02-06T22:27:13.851+07:00</updated><title type='text'>Celebrating Our 100th Awesome Plane</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.airasia.com/id/en/promotion/rr0090506.page#.Ty_xQqEj6JU.blogger"&gt;Celebrating Our 100th Awesome Plane&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4462375348944817866-3304356890407949488?l=jefridi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jefridi.blogspot.com/feeds/3304356890407949488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jefridi.blogspot.com/2012/02/celebrating-our-100th-awesome-plane.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4462375348944817866/posts/default/3304356890407949488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4462375348944817866/posts/default/3304356890407949488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jefridi.blogspot.com/2012/02/celebrating-our-100th-awesome-plane.html' title='Celebrating Our 100th Awesome Plane'/><author><name>Jefri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13631404975338486546</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SYApSwv_alI/AAAAAAAAAAg/a5FpS5O8hC8/S220/IMG_0321.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4462375348944817866.post-4542188296803806750</id><published>2009-04-18T02:27:00.002+07:00</published><updated>2009-09-30T09:07:42.417+07:00</updated><title type='text'>Mengingat Sore</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengingat sore&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku melawan kantuk&lt;br /&gt;Dan aku masih saja duduk terdiam memikirkanmu&lt;br /&gt;Memikirkan sore itu&lt;br /&gt;Mengingat kejadian dimana kita duduk di tengah hiruk pikuknya kaum hedonis&lt;br /&gt;Saling merangkai kata untuk merajut masa depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih saja  membekas di memoriku,&lt;br /&gt; senyum yang merekah di bibirmu,&lt;br /&gt;Tatap matamu yang sendu,&lt;br /&gt;Warna bajumu waktu itu,&lt;br /&gt;Model rambutmu waktu itu,&lt;br /&gt;Wangi parfummu waktu itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih lekat ingatanku tentang perasaan di sore itu&lt;br /&gt;entah romansa entah dilema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua ingatan mengenai sore yang tak menjawab&lt;br /&gt;sore yang kini menjadi bagian cerita hidupku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2:22&lt;br /&gt;180409&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4462375348944817866-4542188296803806750?l=jefridi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jefridi.blogspot.com/feeds/4542188296803806750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jefridi.blogspot.com/2009/04/mengingat-sore.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4462375348944817866/posts/default/4542188296803806750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4462375348944817866/posts/default/4542188296803806750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jefridi.blogspot.com/2009/04/mengingat-sore.html' title='Mengingat Sore'/><author><name>Jefri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13631404975338486546</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SYApSwv_alI/AAAAAAAAAAg/a5FpS5O8hC8/S220/IMG_0321.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4462375348944817866.post-6652778671220188938</id><published>2009-02-21T12:16:00.001+07:00</published><updated>2009-02-21T12:21:41.833+07:00</updated><title type='text'>Komjak Dalam Cerita</title><content type='html'>( Catatan refleksi Komjak )&lt;br /&gt;Oleh : Jefri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Socrates, seorang filsuf pernah berujar “ hidup yang paling sia – sia adalah hidup yang tidak direfleksikan”. Belajar dari pernyataan itu, kukira komjak jadi bagian hidup yang perlu direfleksikan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Waktu&lt;/span&gt; itu info *Komjak kudapat dari Roy, Komjak’ers yang lebih dulu berhenti. Saat itu belum ada bayangan Komjak dalam benakku. Dari mulai proses daftar, wawancara sampai retret orientasi di Samadi, Komjak masih juga belum tergambar dalam benak. Semua serba buram. Tahu tak jelas kenapa ikut? Ada satu keyakinan dalam diri, ada yang bisa kupelajari dari program ini, ada manfaat yang bisa diambil, ada jejaring sosial yang bisa kutambah dari sini. Baru sebatas menerima belum memberi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;MIMPI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Semua orang pasti pernah bermimpi. Terjadi ketika tidur, diluar kehendak si pemimpi. Tapi bukan mimpi itu yang ingin kuutarakan disini. Melainkan tentang mimpi yang lain, tentang impian apa yang mau dicapai.   Kalo nyanyinya Nidji “ Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia “ . Bagiku mimpi hampir tak punya arti waktu itu. Waktu mengisi formulir, pada kolom mimpi kuisi : “Damai di Dunia”. “Impian lo ga kongkrit Jap” Ujar Roy saat melihatnya. Waktu itu kami sedang diskusi, kurang lebih pendapat roy seperti ini : Mimpi ku tidak jelas dan terlalu luas , maunya seperti apa, apa yang sudah kulakukan untuk mencapai mimpi itu. Selesai berdiskusi, batinku tertampar. Selama ini bukan tak pernah kupikirkan mimpiku, yang terbesit cuma membahagiakan orang tua dan jadi orang sukses. Tapi itupun patut dipertanyakan, mau dengan cara membahagiakan? Jadi orang sukses yang seperti apa? Dan kenapa juga bukan itu yang kutuliskan? Sebenarnya ada impian yang “lebih”, namun selama ini hanya melayang saja dalam anganku. Tak pernah kupikirkan dan kustrategikan dengan serius. Maka ketika ditanya tentu jadi bingung sendiri. Dari perkara isi formulir, aku sudah belajar. Bermimpi harus yang jelas, jangan di permukaan saja. Kalau bermimpi baiknya dicatat dan direncanakan sebaik mungkin. Segala strateginya harus dipikirkan dan harus mulai dikerjakan sedini mungkin, semenjak mimpi itu dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BERSUARA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Ada  sebuah pepatah mengatakan “ berjalan pelihara kaki, bicara pelihara mulut “.  Pada proses komjak, kukira potongan pepatah “bicara pelihara mulut” menjadi hal penting yang baik untuk dilakukan. Pada program Komjak ini, semua konstituen (partisipan ) pastinya pernah bersuara  satu sama lain baik pribadi antar pribadi maupun pribadi pada kelompok. Secara lisan maupun tulisan, baik formal juga informal. Dari mulai diskusi serius di ruang pertemuan sampai perkara minta sabun di antara ruang mandi. Jenis dan karakter suaranya pun beragam, mulai dari yang suaranya pelan malu – malu kucing sampai yang keras berapi – api sambil berusaha memonopoli kebenaran. Pada modul pertama, kami mendapat peran bersuara tentang sosial ekonomi dan sikap yang diambil atas masalah. Suara yang kami hasilkan menimbang dari beberapa sumber. Sumber yang kumaksudkan antara lain : observasi dilapangan (walau aku sendiri observasinya cuma sebentar dan tidak mendalam), dari bahan bacaan, dari menonton film dan juga dari seorang praktisi ilmu ekonomi  gelar doktor lulusan Inggris.  &lt;br /&gt; Menghasilkan suatu suara bersama ternyata bukan perkara mudah. Walau sudah didukung sumber yang cukup, tetap banyak benturan yang harus dirasakan. Mulai dari pro kontra suara di internal kelompok sendiri, sampai diserang pertanyaan dari kelompok lain. Pertanyaan yang kadang lebih jadi pernyataan. Kami yang merumuskan suara jadi ekstra hati – hati. Setiap kata dari suara dibedah, diintimi benar – benar asal muasal pemakaiannya. Semua kata harus didukung  realita yang ada. Strukturnya juga  harus sesuai kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak jarang tiap kelompok mendapat masalah tentang struktur.&lt;br /&gt; Pada akhir pertemuan modul pertama, Felix salah seorang  fasilitator sempat bilang begini: “ Setiap kata yang keluar dari mulut saya harus melalui filter otak yang benar. Tahu predikat dan objeknya. Supaya kata – kata itu jadi benar.” Dari semua itu ada pelajaran berharga untukku. Dulu ketika mau bersuara, aku lebih banyak asal ceplos. Tapi sekarang, aku harus lebih hati – hati. Tapi  lebih hati – hati disini bukan lantaran lebih baik diam cari aman. Jika yakin benar dan dapat dipertanggungjawabkan maka kupikir suarakanlah dengan lantang. &lt;br /&gt;Kini bagiku bicara pelihara mulut bukan cuma untuk diingat saja, tapi harus dipraktikan benar – benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lompat tembok  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Membaca latar belakang tiap konstituen,  lebih dari setengah adalah aktifis di parokinya. Aku sendiri pernah melakon aktifis selama kurang lebih tujuh tahun. Menjadi aktifis di paroki kerap disibukan dengan berbagai kegiatan. Mulai dari pelayanan misa, sibuk rapat mempersiapkan acara sampai tarik otot membangun panggung pertunjukan. Tak jarang harus meluangkan waktu berjam – jam di gereja, kadang harus sampai menginap. Jenis kegiatan yang diadakan juga beragam. Dari acara pendalaman iman yang rohaniah, pertandingan olahraga, pertunjukan teater sampai berjambore di alam bebas. Dari situ aku menarik kesimpulan bahwa dinamika orang muda diparokiku baik adanya. Kami hampir tidak pernah kekurangan manusia untuk dikaderisasi. Aku boleh berbangga waktu itu.&lt;br /&gt; Setelah Komjak, aku menyadari suatu hal. Kebanggaanku hampir hilang seiring munculnya kesadaranku. Kesadaran yang muncul dari kesadaran lain. Kesadaran bahwa Komjak merupakan kegiatan orang muda berbasis gereja yang mulai bermain diluar tembok gereja. Perkara yang ada di Komjak mulai menyentuh realita sosial yang selama ini jarang dijamah oleh *OMK. Dari kesadaran itu muncul kesadaran lain bahwa selama ini kegiatan orang muda diparokiku hanya berputar di balik tembok gereja saja. Program – program yang dibuat hanya bertujuan menyelesaikan masalah pada orang muda di paroki. Hampir tidak ada kepekaan untuk membuat program yang menyentuh persoalan diluar tembok gereja. Kalaupun ada paling – paling sifatnya seremonial dan ingin menunjukan eksistensi.&lt;br /&gt;Dari semua itu aku belajar untuk lebih peka dengan kondisi sosial. Kepekaan yang tidak  hanya cukup dengan kata – kata dimulut  saja. Harus kepekaan yang lebih nyata dengan tindakan. Tindakan yang dilakukan secara serius dan totalitas, bukan tindakan yang hanya masturbasi dan seremonial semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 Februari 2009&lt;br /&gt; Tanah Abang 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Komjak : Kampus Orang Muda Jakarta, sebuah program beasiswa pengembangan diri komprehensif yang diselenggarakan PMKAJ ( Pastoran Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta) unit barat&lt;br /&gt;* OMK :  Orang Muda Katolik, muda – mudi katolik yang berumur antara 12 – 35 tahun dan belum menikah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4462375348944817866-6652778671220188938?l=jefridi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jefridi.blogspot.com/feeds/6652778671220188938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jefridi.blogspot.com/2009/02/komjak-dalam-cerita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4462375348944817866/posts/default/6652778671220188938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4462375348944817866/posts/default/6652778671220188938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jefridi.blogspot.com/2009/02/komjak-dalam-cerita.html' title='Komjak Dalam Cerita'/><author><name>Jefri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13631404975338486546</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SYApSwv_alI/AAAAAAAAAAg/a5FpS5O8hC8/S220/IMG_0321.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4462375348944817866.post-7153523339554197398</id><published>2009-02-18T14:58:00.011+07:00</published><updated>2009-02-21T12:31:41.135+07:00</updated><title type='text'>Menonton Ritual</title><content type='html'>Cerita Pendakian Gn. Lawu&lt;br /&gt;Bagian 2 ( dari 3 bagian )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Empat batang Garu diangkat sejajar dengan dahi, dengan khusyuk mulutnya komat kamit mengucap doa. Garunya ditancap ketanah kemudian.  “Duk.. Duk.. Duk“ bunyi bumi yang beradu kepal tangan sebagai akhir prosesi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Brommm&lt;/span&gt;... Mobil berangkat.  Sejalanan  kupandangi sawah di kiri kanan jalan. Gunung Lawu di depan mata, namun masih jauh dari hitungan langkah. Sesekali terlihat ibu – ibu berkebaya jalan sambil membawa bakul entah berisi apa. Bau solar tercium tajam di dalam mobil . Bau dari asap yang dimuntahkan knalpot mobil yang tersedak batuk melibas tanjakan. Aku, Roy dan Iyung larut dalam lelah perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SZvJCp3LMcI/AAAAAAAAACY/ysW9jiraURY/s1600-h/IMG_0023.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SZvJCp3LMcI/AAAAAAAAACY/ysW9jiraURY/s200/IMG_0023.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304054033593086402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; Tiba di Cemoro Sewu, kami langsung menuju pos awal pendakian. Pos  rumah bercat biru dengan gambar logo rokok Sukun dan logo Perhutani di dinding depan. Didalamnya minim perobot cuma sehampar tikar sederhana yang hangat.  Seorang pria gondrong dengan wajah  garang menyambut kami dengan ritual tos – tosan ala anak gunung waktu itu. Raut mukanya seperti baru bangun tidur.  “Tebe”, dengan logat jawa yang kental ia perkenalkan namanya. Ternyata  bicaranya tidak segarang penampilannya.  Kukira Pos ini adalah tempat daftar jika ingin mendaki. Tapi rupanya pos  ini merupakan basecamp sukarelawan seperti  Tebe bermukim. Tempat  mendaftar sebenarnya di bangunan gapura yang letaknya tidak jauh dari pos ini. “  Kalo ada orangnya di gapura ya daftar, kalo ga ada ya langsung aja” Tebe coba menjelaskan.  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;  Mengisi perut jadi agenda pertama kami hari itu. Kekhawatiran kami tentang warung di Cemoro Sewu batal. Aku dan Iyung dapat menikmati lezatnya soto ayam campur, sedang nasi pecel jadi pilihan Roy. harganya juga murah. Totalnya tujuh ribu. Lima ribu untuk setiap porsi. Dua ribu untuk teh manis yang nikmat dan hangat. selesai isi perut, kami bersih badan, lalu susun ulang isi carrier kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Waktu itu kira – kira pukul 9 pagi, matahari masih hangat. Tebe mengantar kami memulai pendakian. Jalannya bersusun batu rapih memanjang ke depan. Dasar orang kota, aku berburuk sangka pada Tebe, kukira dia mau pamrih. Ternyata dia tulus mengantar kami!  “ Uokeh sampe disini aja yah nganternya. Dari sini lurus aja ikutin jalan, kalo ketemu cabang ambil kiri terus.” Petunjuk dari Tebe dengan gaya yang jenaka. Tak lupa kami berucap kasih, lalu tos sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Menuju pos 1, banyak kujumpai ladang penduduk, ada yang sedang dikerjakan. Awalnya kukira baik, tapi ternyata ladang ini ada dampak buruknya juga. Kuceritakan nanti saat turun gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SZvHaLnUFrI/AAAAAAAAACI/Nbo9OeiS9jo/s1600-h/IMG_0054.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SZvHaLnUFrI/AAAAAAAAACI/Nbo9OeiS9jo/s200/IMG_0054.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304052238767101618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Belum jauh  berjalan, kami sudah lelah. Pundak sudah mengeluh, betis sudah protes minta stop. Tambah lagi si mentari yang mulai panas, merangsang bulir – bulir keringat  keluar dari pori - pori kulit. Selama mendaki, beberapa kali kami merebah diri diatas batu selama 5 – 20 menit - mengatur kembang kempis dada kami yang menahan lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SZvIJojMtEI/AAAAAAAAACQ/wE4iMe6gFnQ/s1600-h/IMG_0056.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SZvIJojMtEI/AAAAAAAAACQ/wE4iMe6gFnQ/s200/IMG_0056.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304053053988320322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Sepanjang jalan beberapa kali kami papasi bapak / ibu tua mendaki dengan membawa pikul.  Pikul yang lumayan berat kukira, melihat mereka yang agak kesusahan. Pikul itu berisi segala perlengkapan menggerai warung. Warung ini sifatnya dadakan, hanya ada mengikuti ramainya pendaki saat menjelang satu suro. Atapnya dari terpal dengan rangka ranting pohon, alasnya dari tikar beranyam. Jualannya juga lumayan lengkap, dari nasi pecel, soto, indomie sampai minuman kaleng. Warung seperti ini mudah ditemui di sepanjang jalur pendakian.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Kini kaus jadi sedikit basah keringat, tenggorokan sudah setengah kering. Puncak Lawu masih saja jauh. Kali ini aku mulai berjalan cepat, aku tidak sabar. Roy dan Iyung ku gesa- gesa saat berjalan. Inginnya buru – buru istirahat di pos 2. Setengah mati kutahan pegal di betis dan punggung. Yang ada di kepalaku cuma sampai dan sampai. Kelak ku ketahui, caraku jalan membuat dua sahabatku tidak nyaman. “ Lo jalan uda kaya senior Pecinta Alam yang lagi ngospek juniornya,” Kritik Roy. Kritik yang  disampaikan saat kami sudah di Jakarta. Alhasil aku dan Roy sempat konflik batin saat pendakian. Sungguh kondisi yang tidak nyaman saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Waktu itu kira – kira  setengah tiga siang. Kapal kami berlabuh di pos 2, jauhnya empat kilometer dari titik awal, dua kilometer dari pos 1. Saat itu cuaca mendung, mentari dikerubungi awan hitam yang melepas hujannya dengan deras. Hujan membuat atap terpal warung jadi gemeratakan bunyinya. Seketika dingin menempeli setiap jengkal kulitku. Duduk di tikar, kami nikmati semangkuk indomie yang mengepulkan asap panas. Mantap nikmatnya. Disini kami kenalan dengan seorang pria, umurnya kira -kira 30an. Sosoknya agak misterius buatku, mendengar ritual satu suro jadi misi pendakiannya kali ini. ”Panggil aja Udin” begitu ia perkenalkan namanya, Ia banyak cerita soal gunung di Indonesia. Ia bercerita, hampir semua gunung pernah ia daki kecuali Jayawijaya yang belum. Salut mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Selesai makan, semangat kami melemah. Roy mengagas untuk bemalam saja di sini. “ Badan gw ga enak nih” cerita Roy. Rautnya kusam - kusut waktu itu. Iyung, hanya diam, badannya meringkuk di atas tikar dengan kepala nempel di carrier. Kuketahui sesudahnya, ia juga kelelahan dan  tak ingin lanjut mendaki. “Udah lanjut aja, tanggung banget. Udah deket koq“ timpal Udin yang tiba - tiba membujuk.  Aku , Iyung dan Roy jadi saling pandang berbingungan waktu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Senja menutup siang. Perkiraanku waktu itu jam 6 sore. kini kami  di pos 3. Tujuh ratus meter selisihnya dengan pos 2. Aku mengganti baju yang kuyub oleh hujan. Udin melepas bawaannya. “Aku mau sembahyang dulu” katanya. Udin berlutut di tepi jurang. Empat batang Garu diangkat sejajar dengan dahi, dengan khusyuk mulutnya komat kamit mengucap doa. Garunya ditancap ketanah kemudian.  “Duk.. Duk.. Duk“ bunyi bumi yang beradu kepal tangan sebagai akhir prosesi. Asap garu mengepul tipis, perlahan hilang  di udara. sebuah ujud dari Udin. Untuk siapa? Cuma Tuhan dan Udin yang tahu.&lt;br /&gt;Senja menghilang dari balik gunung, gulita datang menyelimuti Lawu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SZvE-O4UxSI/AAAAAAAAABw/kLnjfhTuKes/s1600-h/IMG_0155.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SZvE-O4UxSI/AAAAAAAAABw/kLnjfhTuKes/s400/IMG_0155.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304049559584163106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4462375348944817866-7153523339554197398?l=jefridi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jefridi.blogspot.com/feeds/7153523339554197398/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jefridi.blogspot.com/2009/02/menonton-ritual.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4462375348944817866/posts/default/7153523339554197398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4462375348944817866/posts/default/7153523339554197398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jefridi.blogspot.com/2009/02/menonton-ritual.html' title='Menonton Ritual'/><author><name>Jefri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13631404975338486546</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SYApSwv_alI/AAAAAAAAAAg/a5FpS5O8hC8/S220/IMG_0321.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SZvJCp3LMcI/AAAAAAAAACY/ysW9jiraURY/s72-c/IMG_0023.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4462375348944817866.post-7390830064628571042</id><published>2009-01-28T16:18:00.001+07:00</published><updated>2009-02-03T09:54:32.247+07:00</updated><title type='text'>Dari Cengkareng ke Tawangmangu</title><content type='html'>Cerita Pendakian Gn. Lawu&lt;br /&gt;Bagian 1 ( dari 3 bagian )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“ hati – hati ya mas, Gunung Lawu itu mistisnya kuat” ujar seorang pria asal Tawangmangu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     Hari itu 26 desember 2008, sehari sesudah umat nasrani bereuforia natal. Pkl 14.30, aku bersama dua orang sahabat sedang menunggu datangnya bis malam cepat, yang seorang adalah Roy sahabat sejak 4 SD, sedang satunya lagi adalah Iyung, gadis yang baru kukenal beberapa minggu yang lalu. Tiga pengembara ini ingin sowan ke tempat Eyang Lawu. Bis dari P.O Bogor Indah yang jadi pilihan kami, kelas AC VIP dengan harga tiket 105.000 per kursi. Tiket dipesan untuk berangkat Pkl 14.30, namun Pkl 15.00 bis masih belum juga tiba. Selama nunggu bis aku sempat berbincang dengan seorang pria asal Tawangmangu, sebelum berangkat dia berpesan “ hati – hati ya mas, di Gunung Lawu itu mistisnya kuat”. Diwaktu yang sama, Roy linglung sesaat hilang akal ketika dia mecahin termos. “ Si mas sih ni..., jadi ga bisa bikin susu kan tuh. Repot nih mas bawa anak kecil.” Ujar seorang ibu yang wajahnya masih kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Pada Pkl 15.30 terdengar teriakan petugas agen bahwa bis tiba, bergegas kami bersiap lalu menaiki bis. Formasi bangku bisnya dua di sisi kiri dan dua dikanan, asiknya masing – masing kursi lengkap dengan fasilitas selimut dan bantal.&lt;br /&gt;Perjalanan dimulai dari sini. Waktu itu gerung kendaraan di Ibukota masih belum terlalu ramai. Ditemani video ketoprak Sangga Buana, perjalanan kuisi dengan obrolan dengan Iyung. Baru kali ini kutatap benar wajahnya yang jelita. Rambutnya hitam berikat belah pinggir, garis wajahnya setengah tegas, tatap matanya kemayu. Kemayu yang menggodai aku. Hari itu ia kenakan kaos oblong gambar rumah adat suku Badui, celananya panjang dengan warna coklat kulit. Sosok gadis yang sederhana, tapi cantik bagiku. Darah jadi mengalir deras waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Waktu itu Si bola api raksasa sudah semakin tak terlihat. Pada Pkl 18.00, bis melakukan perhentian pertama pada rumah makan Pantura Indah. Perut kami bertiga juga sudah mulai berdendang ria. Menu soto ayam yang jadi pilihanku, banderolnya 8000, harga yang agak mahal kukira, melihat nasi yang cuma sejumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Perjalanan berlanjut, Waktu itu Pkl 20.00. Kali ini bola api raksasa sudah tak terlihat, cakrawala hampir hitam warnanya. Suasana dalam bis juga ikutan jadi setengah hitam, hawa AC bis mulai gencar menggerayangi tubuhku, lampu dim dari bis arah berlawanan mulai nakal menembakan sinarnya. Kali ini aku dan Iyung tidak lagi berbincang, ia terlihat mulai larut dalam kantuk, sesekali kupandangi wajahnya yang sedang tidur. Sebenarnya aku takut, kalau – kalau ia tiba – tiba bangun dan memergoki aku, namun semakin takut semakin sering aku curi pandang wajahnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Sebelum tiba di Terminal Tirtonadi, bis dua kali berhenti. Yang sekali pada Pkl 02.30. Posisinya sudah di Semarang, penumpang bis diperkenankan makan dan istirahat. Kali ini Tiga pengembara tidak makan, hanya roy menyalakan sebatang rokok, iyung ke toilet buang air. Yang kedua pada Pkl 04.00, posisinya sudah di Solo, kali ini berhentinya untuk isi angin ban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Akhirnya kami tiba juga di Terminal Tirtonadi, Solo. Waktu itu Pkl 05.00. Bak artis ibukota kami disambut, berpasang – pasang mata tertuju pada kami, berulang kami di elu – elukan. Penggemar kami adalah para kenek bis yang menawarkan tujuan selanjutnya. Tujuan selanjutnya adalah Terminal Tawangmangu. Bis P.O. Langsung jaya jadi pilihan, tarifnya 10 ribu per kepala. Fasilitasnya juga lumayan, lengkap dengan Tv dan DVD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Waktu itu Pkl 06.30, cakrawala sudah mulai setengah abu, dinginnya Tawangmangu mulai berkenalan denganku. Sambil turun bis kami panggul carrier masing – masing, tak lupa memberi salam perpisahan dengan supir bis. Tak lama kemudian kami dihampiri seorang pria perawakan gendut. Kutafsir umurnya berkisar 50 tahunan. Sepintas kalau dilihat perawakannya mirip tokoh gerombolan siberat pada komik donal bebek. Kepalanya agak botak, ditumbuhi rambut yang mulai putih. Perutnya agak buncit. Bicaranya sedikit serak, selain itu saat ia bicara terlihat beberapa giginya sudah tanggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ mau kemana de?”, “ cemoro kandang ? ato cemoro sewu?” , “ ayo langsung jalan nih” tanya pria tadi yang ternyata supir mobil L-300.&lt;br /&gt;Mobilnya mirip peninggalan perang, rombeng, karat dimana mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SYAmP-nSDfI/AAAAAAAAAAU/vHVsuC8uux0/s1600-h/IMG_0017.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SYAmP-nSDfI/AAAAAAAAAAU/vHVsuC8uux0/s200/IMG_0017.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296275217735355890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Saat itu Roy yang jawab, aku juga kurang ingat apa yang dibicarakan. Yang kuingat tawar menawar harga yang alot, akhirnya sepakat 10 ribu. Roy juga sempat menerangkan, bahwa kami ingin makan dulu. Kami kuatir warung di Cemoro Sewu paling banter jualan indomie dan gorengan. Tapi rupanya kami salah perkiraan, ceritanya akan aku ceritakan setelah kami sampai di cemoro sewu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ke Cerita pendakian Bagian 2&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4462375348944817866-7390830064628571042?l=jefridi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jefridi.blogspot.com/feeds/7390830064628571042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jefridi.blogspot.com/2009/01/dari-cengkareng-ke-tawangmangu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4462375348944817866/posts/default/7390830064628571042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4462375348944817866/posts/default/7390830064628571042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jefridi.blogspot.com/2009/01/dari-cengkareng-ke-tawangmangu.html' title='Dari Cengkareng ke Tawangmangu'/><author><name>Jefri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13631404975338486546</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SYApSwv_alI/AAAAAAAAAAg/a5FpS5O8hC8/S220/IMG_0321.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SYAmP-nSDfI/AAAAAAAAAAU/vHVsuC8uux0/s72-c/IMG_0017.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4462375348944817866.post-1434765143878332759</id><published>2009-01-28T15:59:00.003+07:00</published><updated>2009-02-03T09:52:26.402+07:00</updated><title type='text'>Bapak Pembangunan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SYArZoM94PI/AAAAAAAAABA/-laGgzpL6DY/s1600-h/buruhbang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 170px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SYArZoM94PI/AAAAAAAAABA/-laGgzpL6DY/s200/buruhbang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296280881076232434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku pikir mereka layak disebut “ bapak – bapak  pembangunan”. Jika kaum ini tak ada maka tak ada pula bangunan di Negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;      Hari itu Wardi, Kusno dan Toni sedang tidak kerja, mereka 3 buruh bangunan yang masih tersisa di proyek renovasi mess Gedung Kawan Lama. Pekerjaan mereka hampir rampung namun tertunda karena ada bahan material yang belum siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kepulan asap Dji Sam Soe menemani obrolan kami sore itu. Aku pancing pembicaraan dengan bertanya tentang renovasi rumah tinggal. Awalnya rumahku yang jadi obyek pembicaraan (walau tak sebenarnya ingin dibangun ulang)  sampai lanjut ke topik kerja mereka.&lt;br /&gt;Dalam jenjang profesi buruh dikenal 3 tingkat : mulai dari mandor – tukang – kenek. Kerja mandor adalah kordinasi kerja seluruhnya, untuk tukang mengerjakan hal yang khusus, sedangkan kenek membantu tukang.  Kerja mereka hanya pada periode tertentu, jika ada panggilan baru ada kerja. Jika tak sedang ada kerja, mereka bertani di kampung. Status kaum ini juga tak pasti, tak seperti orang kantoran yang punya status karyawan tetap. Jam kerja mereka sih mirip sama orang kantoran, mulai jam 8 selesai jam 5, kadang – kadang ada juga lembur kalau bangunannya ingin lebih cepat selesai.Tentang fasilitas sudah tentu jauh dari nyaman. Kalau proyek besar, ada bedeng besar pula yang disediakan kontraktor. Kalau proyek kecil ( seperti pembangunan rumah tinggal) biasa disediakan rumah kontrakan. Jika dalam bedeng mereka tidur hanya alas tikar, dinding triplek, atap seng, posisi tidur banjar layaknya jemuran ikan asin, nyamuk jadi teman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Ketika ditanya suka duka, mereka cuma senyum kecut sambil salah satu menjawab “ kalau sukanya ya, banyak teman yang solider, dapet duit dari kerja”. “ ya tapi banyakan dukanya mas” timpal salah seorang. Mendengar hal itu kami berempat senyum – senyum kecil hampir tertawa. Soal duka, mereka banyak cerita tentang sikap premanisme penduduk sekitar pada proyek rumah tinggal. Mulai dari dipalaki uang, dimintai paksa bahan material sampai kehilangan ponsel. Masih beberapa duka lagi, dari dimarahi mandor, tempat tidur ala kadar, makanan ala kadar, jauh dari keluarga. Buat mereka duka – duka kecil itu sudah kebal, yang penting ada kerja dan dapat uang. Nonton Tv, berkunjung ke rumah teman dan saudara, nonton dangdut (kalo kebetulan ada)  jadi  kegiatan mereka di waktu luang. Soal pakaian yang berkotor debu dan bekas keringat bisa mereka gunakan sampai 3 hari, cucinya pun cuma kadang – kadang kalau sempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Cerita soal pendapatan, untuk satu hari kerja kurang lebih dapat 50 ribu. “  Kalo pengerjaannya langsung tanpa kontraktor, bisa lebih gede mas. kalo lewat kontraktor tuh udah dipotongin ama mandor ” ujar Pak Kusno. Menghadapi  pemotongan upah seperti itu mereka cuma bisa pasrah. Dengan kondisi ini, hebatnya mereka masih bisa nabung, walau tak banyak. Uang yang ditabung untuk mewujudkan impian. Impian menjadi orang kaya, impian yang jauh di awang – awang terkadang jadi sirna ketika uang habis sekejap menjelang lebaran dan pulang kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Jika soal bekal ilmu beginilah kira – kira ku ringkas : rata – rata kuli bangunan cuma lulus SMP,  ada yang SMA tapi jarang. Itu juga minim keahlian khusus, keahlian kuli bangunan biasa didapat sendiri ketika bekerja. Maka itu mereka sulit mengembangkan hidupnya. Ada yang sudah bekerja 12 tahun, ya tetap saja sebagai kuli. Pertanyaannya, kenapa cuma bisa sekolah sampai SMP / SMA?  Ya karena sekolah mahal. Kenapa sekolah mahal? Ya karena diatur demikian. Diatur oleh golongan takut tersingkir / tersaing karena sudah merasa nyaman dengan posisi mereka. Kalau sekolah mahal maka kaum – kaum inilah yang jadi korban. Jadi korban pemiskinan terus menerus.  Karena miskin materi jadi terpaksa miskin ilmu juga. Karena minim ilmu ya di upahi seminim mungkin, malah dibawah minimum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Padahal kaum – kaum ini secara tidak langsung juga membantu Pemerintah dalam pembangunan.  Bangunan – bangunan yang mereka kerjakan tentu berpengaruh pada pendapatan nasional. Menurut Dudley yang seorang doktor dan praktisi ilmu ekonomi, meningkatnya angka pendapatan nasional disertai peningkatan mutu hidup masyarakat bisa jadi indikator keberhasilan suatu negara melaksanakan pembangunan. Mereka ikut membangun, tapi tidak dibangunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Bayangkan jika rata – rata kuli bangunan adalah manusia yang kaya akan ilmu, mungkin mereka bisa hidup lebih baik. Sekurangnya akan ada perbaikan di keturunan – keturunan mereka. Tentunya si golongan takut akan semakin takut lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4462375348944817866-1434765143878332759?l=jefridi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jefridi.blogspot.com/feeds/1434765143878332759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jefridi.blogspot.com/2009/01/bapak-pembangunan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4462375348944817866/posts/default/1434765143878332759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4462375348944817866/posts/default/1434765143878332759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jefridi.blogspot.com/2009/01/bapak-pembangunan.html' title='Bapak Pembangunan'/><author><name>Jefri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13631404975338486546</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SYApSwv_alI/AAAAAAAAAAg/a5FpS5O8hC8/S220/IMG_0321.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FYNnkxSojS8/SYArZoM94PI/AAAAAAAAABA/-laGgzpL6DY/s72-c/buruhbang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
